Banyak sekali kita dengar orang sebut syukur-syukur-syukur. Namun mungkin sebagian kita tidak mengetahui apa itu arti syukur, apalagi hakikatnya.
Saudara, Allah swt berfirman, artinya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:34)
Oleh karena sangat banyaknya karunia dan kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada semua manusia yang kadang lalai, tidak tahu diri dan tidak mengenal kebaikan dan karunia Allah kepadanya, karena itu semua Allah swt menyapa manusia ini dengan mengatakan, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakan nya.
Allah swt menyapa manusia agar mereka bersyukur kepada-Nya dan memanfaatkan semua karunia dan nikmat itu pada jalan yang diridai-Nya, juga agar manusia tidak menjadi orang yang zalim dan kufur nikmat dan tahu betapa banyaknya karunia dan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepadanya. “Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Kita sering mendengar seseorang mengeluh dan berontak, seraya berkata, “Allah sangat tidak adil! Aku sudah melakukan shalat lima waktu, bahkan shalat malam pun sering aku lakukan dan aku sudah berdo’a, namun hingga detik ini Dia tidak perah mengabulkan do
Ungkapan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang dan mirip dengan yang diungkapkan oleh Allah di dalam Alquran tentang sifat kufur manusia, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku”. (QS. 89:15-16)
Bukankah Allah telah memberinya mata (penglihatan) yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan material, lalu sepadankah kesyukurannya dengan nikmat penglihatan (mata) ini?! Bukankah Allah telah menganugerahkan kepadanya akal yang dengannya ia dapat melakukan banyak hal? Relakah akalnya ditukar dengan uang sebanyak kebutuhannya?! Lalu bagaimana dengan nikmat sehat, nikmat bisa bernafas, nikmat oksigen, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat dapat beribadah dengan baik dan khusyu’, nikmat ilmu dan lain-lainnya? Allah swt berfirman, Katakanlah, “Dia-lah yang mencipta kan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)”. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. 67:23)
Jika nikmat yang ada pada dirinya saja belum tersyukuri, lalu pantaskah ia mengucapkan ungkapan ke-kufuran- seperti di atas? Tidakkah kalau Allah memberinya nikmat yang lain malah membuatnya makin tidak bersyukur, sebab yang ada saja tidak disyukuri?
Karunia dan nikmat telah diberikan kepada kita (manusia) sungguh tidak dapat kita hitung jumlahnya dan sebanyak apapun kesyukuran manusia kepada Allah atas karunia-Nya tetap tidak akan sebanding, bahkan bisa bersyukur itu sendiri merupakan karunia dan nikmat. Oleh karena itu, hendaknya manusia, apapun kedudukannya di dunia harus selalu bersyukur kepada Allah, sang Pemberi nikmat.
Ibnu Qayyim (seorang tokoh ulama terkemuka) menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, melekatnya nikmat itu di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan terpatrinya nikmat itu pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn, hal. 348)
Dan beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur. Lima pilar pokok itu adalah kepatuhan orang yang bersukur kepada Pemberi nikmat, mencintai-Nya, mengakui nikmat dari-Nya, memuji-Nya atas nikmat-Nya dan tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk sesuatu yang tidak Dia ridhainya.
Ketika seseorang mengidap suatu penyakit yang membuatnya menderita sepanjang waktu dan sudah mengancam keselamatan jiwanya. Sang dokter memutuskan ia harus menjalani suatu operasi medis untuk menyelamatkan jiwanya, akan tetapi biaya operasi jauh di luar kemampuannya, bahkan sudah berbagai upaya dilakukan keluarganya untuk mendapatkan dana demi menolongnya hingga akhirnya mereka berputus asa dan pasrah. Sementara, si penderita terus merasakan getirnya penderitaan yang menimpanya……. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ada seorang dermawan menanggung semua kebutuhan biaya operasi, hingga akhirnya jiwa penderita terselamatkan dan bebas dari derita yang selama ini mencengkramnya.
Di saat terpenuhinya kebutuhan seperti itulah kenikmatan itu terasa, ucapan terima kasih dan pujian kepada si dermawan pun terus diucapkan sepenuh hati, kebaikannya tak terlupakan sepanjang masa, rasa patuh, hormat dan cinta kepadanya pun mendalam di dalam kalbu. Kalau pun sekiranya bantuan itu bersyarat, maka dengan suka hati ia memenuhi semus syarat-syaratnya. Begitulah kira-kira ilustrasi seorang yang bersyukur.
Walhasil, ucapan alhamdulillah saja belum bisa dianggap telah mencerminkan kesyukuran, sebelum adanya pengakuan lisan, sikap tunduk dan taat, rasa cinta serta memanfaatkan kenikmatan dalam rangka ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala.
Jika, demikian hakikat syukur, maka jangan kita merasa heran kalau Allah swt berfirman, “Dan sangat sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (Q.S. 34: 13), Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14:34), karena memang seperti itu keadaannya.
Meskipun demikian, Allah swt tidak ingin kalau hamba-hamba-Nya tidak bersyukur, karena akan berakibat buruk bagi mereka di dunia maupun di akhirat. Maka Dia perintahkan kepada mereka melalui ayat-ayatnya yang lumayan banyaknya agar mereka selalu bersyukur, dan Rasulullah saw pun mengajarkan kepada ummatnya apa yang harus mereka lakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah swt di antaranya melalui do
Mari kita memperbanyak doa agar harkat, martabat dan aspirasi kita terujud, mari, mulai selesai shalat Jumat hari ini dan seterusnya setiap habis shalat lima waktu kita baik secara bersendirian ataupun berjamaah. Mari kita lakukan dengan penuh keikhlasan, khusyuk dan tawadhu’.
Demikian, Wallahu A’lamu Bish-Shawab.
* Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA adalah Ketua Umum MPU Aceh
